EV : Mazmur 150 : 1-6
Apabila kita mengingat akan sejarah nenek moyang suku batak,
tentu kita melihat banyak sekali keragaman adat di dalam suku tersebut. Dan
yang utama dari keragaman adat di dalam suku ini adalah kepercayaan animisme
yang masih melekat hingga saat ini, dan kita tidak bisa pungkiri, bahwa
kepercayaan tersebut sudah tertanam semenjak kita belum lahir. Saya ingin
mengajak anda untuk melihat betapa hebatnya suku batak dalam menjaga tradisi
dan kepercayaan akan roh nenek moyangnya di dalam kehidupan mereka saat ini,
bahkan mereka sudah menduakan Tuhan yang telah mereka pilih, sebagai contoh
ketika kita berziarah ke makam nenek moyang, adalah yang membawa rokok, kopi,
dsb..tentu ini sudah merupakan bentuk bahwa pada zaman yang sudah maju seperti
sekarang ini masih banyak orang yang melakukan tindakan dimana mereka menduakan
Allah di tengah-tengah kehidupan mereka.
Kemudian,
saya ingin mengajak anda untuk melihat dari sisi yang lain, ada orang yang
sangat betul-betul mempunyai satu Tuhan, yakni Tuhan Yesus, tetapi sudah
meninggalkan tradisi/budaya yang dalam hal ini budaya batak di dalam
kehidupannya, sebagai contoh adalah orang yang tidak ingin makan, makanan yang
mengandung darah, kemudian meninggalkan tradisi ziarah ke makam nenek
moyangnya, meninggalkan adat yang sudah tertanam semenjak mereka belum lahir, tentu
hal ini sangat kontras apabila kita kaitkan dengan nats di atas.
Nats diatas
pun sangat kental mengangkat budaya di dalam kehidupan orang-orang di dalam
Alkitab, pada Mazmur 150 : 1-6, telah jelas bahwa pada zaman dahulu pun mereka
menyembah Tuhan dengan gambus, kecapi, yang pada intinya memakai cara/ adat
istiadat nenek moyangnya .
Maksud saya
mengambil topic ini adalah banyak ketidaksinambungan antara budaya dan agama apabila kita lihat dari sisi persepsi
masyarakat sekarang ini, budaya bukanlah suatu tolak ukur akan sebuah
kepercayaan, tetapi budaya hanyalah saluran kepercayaan ketika misionaris belum
menyebarkan agama, dan hal ini tidak dapat/boleh ditinggalkan begitu saja,
melainkan perlu dilestarikan, tetapi jangan dijadikan hal yang utama dari yang
utama yaitu Kristus, karna budaya hanyalah suatu identitas diri seseorang
manusia, karna dahulu pun bangsa yahudi mengenal suatu kepercayaan akan nenek
moyangnya, sebelum mereka memilih Kristus, dan ketika mereka memilih Kristu di
dalam hidupnya, kepercayaan seperti ini tidak hilang, dan mereka tetap
melestarikannya.
Jadi
saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus Yesus, takut akan Tuhan bukan
berarti kita taku dan jauh daripadaNya, melainkan takut akan Tuhan yang sebenarnya
adalah seberapa sayang dan cinta kah kita terhadap Allah yang telah menciptakan
kita. Memang banyak godaanya, masih banyak orang yang percaya akan kuasa
dukun/paranormal di dalam hidupnya, tetapi itulah tantangan mengikut kristus,
karna tidak selamanya mengikuti kristus itu mengalami banyak kemudahan di dalam
hidupnya, melainkan banyak pergumulan-pergumulan yang pada intinya memantapkan
seseorang tersebut dalam menyayangi Tuhan Yesus sebagai gembala hidupnya. Maka
dari itu, sadarilah bahwa Tuhan begitu cinta dan kasih kepada kita, melebihi
apa yang ada di dunia ini, sehingga kita disebut sebagai biji mataNya, untuk
untu jadilah kita sempurna seperti lilin yang menyala bukan di tempat yang
terang, melainkan di tempat yang gelap.
Saudara-saudara
yang terkasih di dalam Kristus, ingatlah bahwa segalanya telah ada yang
mengatur terutama budaya yang telah menjadi jati diri kita, jadi ketika anda
ingin melestarikan budaya anda, jangan setengah-setengah, kita harus total
dalam menyikapi budaya, dengan perkembangan agama Kristen yang semakin meluas,
karna tanpa budaya, mungkin missionaries-missionaris dari luar tidak akan
pernah muncul, terutama di tanah Batak, karena mereka bangga dengan
keberagaman, kekompakkan yang ditunjukkan oleh masyarakat Batak, jadi tidak ada
yang perlu kita hawatirkan. Jangan hanya karna budaya, kita menjadi jauh
daripada Tuhan, tetapi jadikannlah suatu budaya itu alat kita untuk mendekatkan
diri kepada Allah. AMIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar