Sabtu, 05 Oktober 2013

Budaya, bukanlah suatu tolak ukur akan sebuah kepercayaan




EV : Mazmur 150 : 1-6


Apabila kita mengingat akan sejarah nenek moyang suku batak, tentu kita melihat banyak sekali keragaman adat di dalam suku tersebut. Dan yang utama dari keragaman adat di dalam suku ini adalah kepercayaan animisme yang masih melekat hingga saat ini, dan kita tidak bisa pungkiri, bahwa kepercayaan tersebut sudah tertanam semenjak kita belum lahir. Saya ingin mengajak anda untuk melihat betapa hebatnya suku batak dalam menjaga tradisi dan kepercayaan akan roh nenek moyangnya di dalam kehidupan mereka saat ini, bahkan mereka sudah menduakan Tuhan yang telah mereka pilih, sebagai contoh ketika kita berziarah ke makam nenek moyang, adalah yang membawa rokok, kopi, dsb..tentu ini sudah merupakan bentuk bahwa pada zaman yang sudah maju seperti sekarang ini masih banyak orang yang melakukan tindakan dimana mereka menduakan Allah di tengah-tengah kehidupan mereka.
            Kemudian, saya ingin mengajak anda untuk melihat dari sisi yang lain, ada orang yang sangat betul-betul mempunyai satu Tuhan, yakni Tuhan Yesus, tetapi sudah meninggalkan tradisi/budaya yang dalam hal ini budaya batak di dalam kehidupannya, sebagai contoh adalah orang yang tidak ingin makan, makanan yang mengandung darah, kemudian meninggalkan tradisi ziarah ke makam nenek moyangnya, meninggalkan adat yang sudah tertanam semenjak mereka belum lahir, tentu hal ini sangat kontras apabila kita kaitkan dengan nats di atas.
            Nats diatas pun sangat kental mengangkat budaya di dalam kehidupan orang-orang di dalam Alkitab, pada Mazmur 150 : 1-6, telah jelas bahwa pada zaman dahulu pun mereka menyembah Tuhan dengan gambus, kecapi, yang pada intinya memakai cara/ adat istiadat nenek  moyangnya .
            Maksud saya mengambil topic ini adalah banyak ketidaksinambungan antara budaya dan  agama apabila kita lihat dari sisi persepsi masyarakat sekarang ini, budaya bukanlah suatu tolak ukur akan sebuah kepercayaan, tetapi budaya hanyalah saluran kepercayaan ketika misionaris belum menyebarkan agama, dan hal ini tidak dapat/boleh ditinggalkan begitu saja, melainkan perlu dilestarikan, tetapi jangan dijadikan hal yang utama dari yang utama yaitu Kristus, karna budaya hanyalah suatu identitas diri seseorang manusia, karna dahulu pun bangsa yahudi mengenal suatu kepercayaan akan nenek moyangnya, sebelum mereka memilih Kristus, dan ketika mereka memilih Kristu di dalam hidupnya, kepercayaan seperti ini tidak hilang, dan mereka tetap melestarikannya.
            Jadi saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus Yesus, takut akan Tuhan bukan berarti kita taku dan jauh daripadaNya, melainkan takut akan Tuhan yang sebenarnya adalah seberapa sayang dan cinta kah kita terhadap Allah yang telah menciptakan kita. Memang banyak godaanya, masih banyak orang yang percaya akan kuasa dukun/paranormal di dalam hidupnya, tetapi itulah tantangan mengikut kristus, karna tidak selamanya mengikuti kristus itu mengalami banyak kemudahan di dalam hidupnya, melainkan banyak pergumulan-pergumulan yang pada intinya memantapkan seseorang tersebut dalam menyayangi Tuhan Yesus sebagai gembala hidupnya. Maka dari itu, sadarilah bahwa Tuhan begitu cinta dan kasih kepada kita, melebihi apa yang ada di dunia ini, sehingga kita disebut sebagai biji mataNya, untuk untu jadilah kita sempurna seperti lilin yang menyala bukan di tempat yang terang, melainkan di tempat yang gelap.
            Saudara-saudara yang terkasih di dalam Kristus, ingatlah bahwa segalanya telah ada yang mengatur terutama budaya yang telah menjadi jati diri kita, jadi ketika anda ingin melestarikan budaya anda, jangan setengah-setengah, kita harus total dalam menyikapi budaya, dengan perkembangan agama Kristen yang semakin meluas, karna tanpa budaya, mungkin missionaries-missionaris dari luar tidak akan pernah muncul, terutama di tanah Batak, karena mereka bangga dengan keberagaman, kekompakkan yang ditunjukkan oleh masyarakat Batak, jadi tidak ada yang perlu kita hawatirkan. Jangan hanya karna budaya, kita menjadi jauh daripada Tuhan, tetapi jadikannlah suatu budaya itu alat kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. AMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar